Navigasi

Tampilkan postingan dengan label Black Metal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Black Metal. Tampilkan semua postingan

2012/09/21

Seul Contre Tous: A Mixtape

21 September 2012
Singkat saja, kemarin malam, yang kebetulah bertepatan dengan malam jumat kliwon yang (katanya) angker saya membuat sebuah mixtape. Ya, sebuah mixtape berisikan tembang-tembang kebencian dan keputusasaan. Sebuah mixtape black metal.

Kalian tak akan menemukan alasan di balik pembuatan mixtape ini selain kekalutan luar biasa yang melanda akibat pengerjaan tugas akhir kuliah yang tak berkesudahan. Mixtape ini tak lebih dari byproduct atas writer's block yang saya alami.

Mungkin di lain waktu saya akan membahas tentang film favorit saya yang judulnya saya catut sebagai judul dari mixtape ini. Tidak dalam waktu dekat ini yang pasti. Untuk sementara, sila menikmati.




2012/09/11

Sayer

11 September 2012
Salam. Lama tak bersua, duhai tempat sampah serapahku. Mungkin hari ini seharusnya saya mengikuti arus dan menulis tentang peristiwa paling overhyped seantero jagad, yakni peristiwa runtuhnya menara kembar WTC yang kebetulan bertepatan dengan tanggal entri ini ditulis. Manusia mati tiap harinya di seantero bumi. Mengapa saya harus meninggikan nyawa beberapa orang dan memberikan penghormatan berlebih kepada mereka sementara tiap harinya pun nyawa beterbangan di belahan bumi lainnya? Haha, misantropis sekali ya.

Aduh sial, tak sengaja saya sudah menyebutnya. Tak apalah, anggap saja publikasi gratis untuk Amerika Serikat. Sebenarnya entri blog kali ini ingin saya dedikasikan kepada Sayer, sebuah aksi atmosferik black metal asal New Hampshire, Amerika Serikat. Saya agak malas berpanjang-panjang mendeskripsikan musik mereka track demi track jadi langsung saja. Sayer memainkan black metal atmosferik yang agak berbeda dengan aksi-aksi black metal atmosferik kebanyakan. Mereka membuktikan bahwa black metal atmosferik tidaklah melulu harus dieksekusi dengan tempo super rendah yang mengundang kantuk. Selain tempo, yah, jujur tak ada yang terlalu spesial: wall of sound dan denging noise yang membalut hentakan blastbeat drum a la black metal kebanyakan.

Langsung saja dengarkan atau unduh gratis tembang-tembang Sayer di laman bandcamp mereka:









2012/06/23

Vallendusk

23 Juni 2012
Hari yang cerah, mari kita bermain. Saya akan melempar beberapa kata, lalu biarkan saya menebak apa yang ada di dalam benak anda. "Black Metal Indonesia", apa yang anda pikirkan? Tunggu, tunggu, biarkan saya menebak: gimmick bertemakan mistisisme, jurig, kuntilanak, pocong, kekejaman terhadap binatang, dan Cradle of Filth. Tidak? Ah, tak apa. Setidaknya itulah yang ada di dalam benak saya setiap kali ada kolektif yang mendeklarasikan aksinya sebagai black metal di Indonesia. Hampir semuanya menganut gimmick usang seperti berdandan seperti jejadian dan mempertontonkan ritual meminum darah ayam di video klip maupun aksi panggungnya. Selain itu pun musiknya tak terlalu bervariasi, hampir semuanya mengadopsi pendekatan simfonik terhadap black metal seperti yang dilakukan oleh Cradle of Filth dan Dimmu Borgir.

Tidak semuanya, memang. Ada beberapa grup di Bandung yang mengadopsi blackened death metal seperti Impish dan Hellgods. Di Solo ada Makam, grup black metal yang cukup vokal dalam memperjuangkan Kejawen. Selain itu akhir-akhir ini juga mulai banyak grup black metal satir yang bernaung di bawah Lumbung Angker Records seperti Bvrtan dan Cangkang Serigala yang merayakan keglamoran black metal berfidelitas rendah era second wave seperti Immortal dan Darkthrone, lengkap dengan stereotip-stereotip dan corpsepaint yang menyertainya.

Namun, hey, bagaimana dengan post-black metal? Indonesia sepertinya mengalami defisit akan grup-grup yang membawakan subgenre yang dibai'at sebagai anak haram black metal oleh para puritan ini. Cukup mengherankan memang, apalagi melihat sepertinya cukup banyak hipster di negeri ini yang rajin memutar tembang-tembang dari Wolves in the Throne Room dan Alcest. Sebenarnya saya agak bersyukur mereka tidak latah membuat proyek bertemakan black metal. Silakan lantangkan "elitis" dan "pretensius" kepada saya namun saya tetap berpikir bahwa black metal sebaiknya dijauhkan dari tangan khalayak, terutama khalayak yang menganggap dirinya bukan bagian dari khalayak. Biarkan saja ia tetap kvlt, berbahaya, dan subversif. Saya agak malas berpanjang lebar tentang hipsterdom di sini, sila simak pembahasan Adbusters saja jikalau ingin. Kurang lebih saya agak sependapat dengan mereka.

Sampai mana tadi, post-black metal? Ya, maaf, entah kenapa saya punya kebiasaan meracau tak jelas juntrungannya setiap menulis. Akhir kisah saya bertemu dengan sebuah nama: Vallendusk. Saya pertama mengenal mereka pada bulan Oktober tahun 2011 dari Mithos, gitaris mereka yang sempat bernaung di aksi-aksi metal Indonesia kenamaan seperti Bloody Gore dan Funeral Inception. Waktu itu ia sedang mencari bassist untuk Vallendusk, sebuah proyek yang tidak banyak saya ketahui selain pencantuman label "Atmopheric/Post/Folk Black Metal" pada laman Facebook-nya. Kontan saya pun berdecak "WAH!".

Kemudian senyap.


Selang beberapa bulan, Vallendusk mengunggah tembang-tembang mereka dan mengumumkan bahwa mereka akan merilis EP perdana mereka dalam format CD di bawah label Pest Productions, sebuah label rekaman asal China yang berjasa memperkenalkan saya dengan subgenre post-black metal melalui kompilasi "The World Comes to An End in the End of a Journey". Oh wow, terang saya takjub. Mereka tak banyak bicara dan menjual gimmick namun tiba-tiba mereka sudah berhasil melempar karya mereka ke audiens internasional. Sayang sepertinya mereka justru malah kurang dikenal di dalam negeri.

Vallendusk membawakan black metal yang sangat mengingatkan saya kepada aksi-aksi internasional yang banyak dirujuk ketika membicarakan post-black metal seperti Wolves in the Throne Room dan Agalloch. Tidak, mereka tidak mengikuti langkah Neige yang bermain dengan wall of sound yang berlapis-lapis dan riff-riff yang melanglang buana entah kemana.

Komposisi dari EP ini kebanyakan terdiri dari aransemen-aransemen panjang yang dibangun dengan frasa-frasa akustik yang mengarah kepada ledakan blastbeat dan riff-riff yang megah. Namun sayangnya saya tidak menemukan intensitas yang sama di setiap lagu. Vallendusk sepertinya lebih berhasil membangun suasana dan dinamika yang epik pada track dengan durasi panjang seperti "The Wooden Sphere" dibandingkan dengan track lainnya. Paruh awal dari tembang "Foghymn" agak mengingatkan saya pada era second wave black metal, namun pada paruh kedua mereka kembali membangun tempo untuk meledakkannya menuju senyap di akhir lagu. Sebuah formula yang menarik, namun sayang Vallendusk menggunakan formula tersebut untuk hampir setiap lagunya sehingga terdengar repetitif dan mudah untuk diprediksi.

Secara keseluruhan saya menilai EP perdana mereka ini cukup solid. Saya tak begitu mengerti masalah produksi namun saya bisa mendengarkan EP ini dengan nyaman tanpa harus mengerutkan telinga. Tidak buruk untuk rilisan perdana. Semoga pada rilisan-rilisan berikutnya Vallendusk lebih berani untuk bereksperimentasi pada ranah dinamika dan struktur lagu. Full-length, semoga.

Sekian racauan saya.
Salam.

==========================================
Vallendusk:
- Bandcamp (Streaming)

2010/11/01

Amesoeurs

November 1.
Halloween telah usai dan para setan berjas kembali ke kantornya masing-masing, menghitung lembar-lembar yang mereka dapatkan dari royalti pemakaian wajah mereka untuk kostum berharga jutaan rupiah yang dipakai para manusia untuk berpesta merayakan ketakutan. Sementara itu di belahan bumi lainnya, para gerombolan gamis berteriak-teriak lantang, "FESTIVAL IBLIS! HARAM! DAJJAL! FREEMASON!" sementara tetangganya gelisah menunggu Jumat Kliwon yang tak kunjung tiba.
Sedangkan saya? Sibuk menyusun rencana untuk mengkudeta setan dari tahta monopoli mereka terhadap Halloween. Seharusnya tuhan juga menerapkan antitrust law untuk festival-festival seperti ini.

Hmm..

Ah sudahlah, persetan dengan Halloween.
Pada momen kali ini saya akan membahas, mengomentari, atau sekedar meracau tentang Amesoeurs, sebuah band yang cukup berhasil mengawinkan dengan paksa dua buah aliran, yaitu post-punk dan black metal. Ya, saya masih akan membahas tentang anak haram bernama post-black metal yang lahir dari sebuah pemerkosaan brutal yang dilakukan oleh kaum hipster terhadap sang perawan bangsat, black metal (mungkin tidak masalah bagi Gaahl, because he love it from the back, hardcore).

Amesoeurs

Mari bercerita singkat tentang Amesoeurs.
Amesoeurs didirikan pada tahun 2004 oleh Neige (ya! lagi-lagi dia!), Audrey Sylvain, dan Fursy Teyssier dari Les Discrets, sebuah proyek dark folk yang menurut saya, artwork cover albumnya jauh lebih membuai dibandingkan musiknya. Umur Amesoeurs tidak terlalu panjang, hanya lima tahun. Selama lima tahun masa hidupnya, Amesoeurs hanya sempat mengeluarkan tiga rilisan sebelum konflik berpilin dan membubarkan mereka. Diskografi mereka adalah sebagai berikut:
  • 2004 - Ruines Humaines [EP]
  • 2007 - Valfunde/Amesoeurs [Split]
  • 2009 - Amesoeurs [Full-length]
Kenapa mereka membubarkan diri? Dari berbagai sumber yang saya baca, alasan mereka adalah karena konflik internal dan ketidakselarasan pandangan akan masa depan band. Alasan "konflik internal" cukup masuk akal, mengingat bahwa ada masa lalu yang pernah indah antara Neige dan Audrey. Menarik ya? Tapi saya bukanlah seorang spesialis gosip dan juga tidak berminat untuk mengirim artikel ini ke SILET. Jadi, mari biarkan Feny Rose saja yang mengurus masalah gosip, kita bahas musiknya saja, shall we?

Saya hanya akan membahas tentang album full-length mereka saja, karena sepertinya dewa google tidak mampu membantu saya untuk menemukan download link yang masih aktif untuk mengunduh EP dan album Split mereka. Sepertinya google tidak begitu maha kuasa ya?

Amesoeurs memasukkan begitu banyak genre sebagai bumbu dalam album self-titled mereka, sehingga sulit sekali untuk menentukan musik apa saja yang meng-influence mereka. Namun saya bisa menemukan dua genre yang lumayan menonjol pada Amesoeurs: post-punk dan black metal. Amesoeurs berhasil memadukan kedua genre yang tidak saling kenal tersebut ke dalam kerangka aransemen yang unik. Contoh paling menarik ada pada track "Heurt", yang menggabungkan sound gitar yang kotor, blastbeat, dan tremolo-picking ala black metal dengan melankolia suara vokal Audrey yang datar mengiris. Ekstatik.

Album self-titled ini juga mengandung beberapa track yang lebih menonjolkan wajah post-punk dari Amesoeurs. Tapi jangan harap kalian akan menemukan Arctic Monkeys atau Bloc Party di sini. Coba saja tengok tembang-tembang seperti Les Ruches Malades, Faux-Semblants, Video Girl, dan Amesoeurs. Kalian tidak akan menemukan dansa-dansi bahagia pada track-track tersebut. Amesoeurs mendekonstruksi post-punk lalu membangunnya kembali dengan nihilisme black metal yang lirih, menghasilkan sebuah komposisi keluhan-rintihan-jeritan yang bercerita tentang betapa banalnya dunia modern.

Amesoeurs memang cukup kontroversial. Mereka membuat para puritan black metal mencak-mencak, mengutuki mereka 666 keturunan. Darah Amesoeurs menjadi halal untuk ditumpahkan. Neige, sebagai salah seorang otak dari band ini, memang terkenal di scene black metal sebagai kafir. Proyek-proyek Neige banyak dikenal sebagai proyek murtad. Salah satu contohnya adalah Alcest, yang sangat "lembut" dan melankolis (oh betapa kedua kata ini dapat membuat para kvlthead itu bergidik murka). Beda halnya dengan para kritikus musik. Mereka terhenyak kagum atas keberhasilan Amesoeurs menggabungkan dua genre musik yang sangat bertolak belakang menjadi satu kesatuan.

Saya akui musik mereka memang unik dan berani, namun ada beberapa hal yang menurut saya menjadi poin minus Amesoeurs. Poin pertama adalah vokal Audrey yang datar. Dalam kadar tertentu kedataran vokal Audrey memang dapat menjadi poin plus, namun alangkah lebih menariknya apabila Audrey dapat lebih bermain-main dalam dinamika vokal agar dapat mendepak Neige keluar sepenuhnya dari area vokal. Entahlah, band metal dengan vokalis wanita selalu terdengar lebih lezat bagi saya. Apalagi apabila Audrey juga dapat turut menyumbangkan teriakan dan jeritannya ke dalam lini vokal, wah!

Poin kedua ada pada lini komposisi. Amesoeurs kadang dapat terdengar begitu menjemukan. Sepertinya mereka terlalu banyak meminjam sifat post-punk: riff-riff yang repetitif dan hentakan perkusi yang hampir sama nyaris tanpa variasi. Come on! Ini adalah album metal, harusnya mereka dapat bermain-main lebih berani sedikit lagi di area komposisi ini. Kami mendengarkan kalian bukan untuk berdansa resah, Amesoeurs!

Tapi sejujurnya, kekurangan-kekurangan tersebut tidak mengurangi kenikmatan album self-titled Amesoeurs ini. Malah, saya penasaran untuk mendengar lebih jauh tentang eksperimentalia apa lagi yang akan lahir dari rahim mereka. Namun apabila mendengar beberapa bagian lagu dari Amesoeurs, sepertinya album ini adalah album puncak mereka. Bila Ruines Humaines adalah perkenalan antara post-punk dan black metal dan Amesoeurs adalah sebuah one-night stand,  maka biarkan mereka bercumbu dan berpisah di album ini, karena sesungguhnya sebuah pernikahan yang dipaksakan hanya akan menemui kehancuran.

Tak apalah.
Masih banyak chord di lautan not, bebaskan dirimu wahai musik!




---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Amesoeurs (Full-length, 2009)




Tracklist
1. Gas in Veins
2. Les Ruches Malades
3. Heurt
4. Recueillement
5. Faux Semblants
6. I XIII V XIX XV V XXI XVIII XIX – IX XIX – IV V I IV
7. Trouble (Éveils Infâmes)
8. Video Girl
9. La Reine Trayeuse
10. Amesoeurs
11. Au Crépuscule de Nos Rêves



link

2010/09/08

Peste Noire

September, 8.
Hampir sebulan ya? Ah biarin deh, namanya juga blog suka-suka.
Kali ini gw pengen nulis sebuah.... review? Bukan, komentar. Ya, sebuah komentar tentang sebuah band Black Metal asal Prancis bernama Peste Noire yang diotaki oleh seorang bajingan individualis bernama Famine.

si bajingan individualis

Gw pertama ketemu dengan band ini di mediafire, sekitar 2 minggu yang lalu setelah mata gw gak sengaja nabrak sebuah deskripsi di sebuah situs jauh-entah-dimana yang bertuliskan "Black Metal combined with French literatures and folk music". Oh wow, gw terhenyak, tertarik, dan memutuskan untuk mengunduh album ini (walaupun Famine dalam suatu wawancara mengatakan "MY MUSIC IS NOT MEANT TO BE LISTENED TO ON A FUCKING COMPUTER"). Ah screw you Famine!

Sembari menunggui speedy yang terkantuk-kantuk, saya bertolak menuju Google Sang Maha Pencari untuk menggali hal-hal lain mengenai band ini; konsep bermusik, tema lirik, dan hal-hal lain yang mungkin kurang berharga dibandingkan malam senyap yang seharusnya dipakai untuk belajar (yeah rite). Gw menemukan sebuah wawancara yang menarik antara Diabolical Conquest, sebuah webzine asal entah-dari-mana, dengan Famine mengenai Peste Noire dan gosip-gosip ala Feny Rose di seputarnya. Ah dasar kurang kerjaan, dibacalah wawancara tersebut oleh pemuda yang seharusnya belajar ini. Ada suatu bagian yang menarik. Famine menyebutkan bahwa dia adalah nasionalis dan juga satanis. Err... What? Ya, gak salah denger kok: satanis-nasionalis. Ini udah kayak denger berita kalo Amerika Serikat sama Uni Soviet kawin lari dan ngelahirin Gurun Gobi. Bagaimana bisa dia menyatukan nasionalisme, yang kadangkala menuntut pengorbanan individu, dengan satanisme, yang mana menjadi simbol kebebasan, individualisme, dan pemberontakan? Entah deh, prajurit-prajurit Black Metal ini tidak pernah terdengar rasional bagi gw.

Beranjak ke musik. Album pertama mereka, La Sanie des siècles, buat gw merupakan album yang sangat asik dari lini sound, komposisi dan dinamika, serta atmosfer. La Sanie des siècles benar-benar menggambarkan chaos secara keseluruhan. Dari lini sound misalnya, mereka merekam album ini dengan peralatan yang sangat buruk dan mixing yang sangat ofensif bagi telinga (yah, kebanyakan band Black Metal kvlt memang seperti itu sih), menghasilkan tembang-tembang metal yang "kotor". Gw rasa sound seperti ini justru cocok untuk tipe band seperti Peste Noire ini. Hey, suara seperti apalagi yang cocok untuk mendampingi lirik-lirik tentang keputusasaan dan kebusukan manusia selain sound-sound yang kotor dan sedikit mentah?

Pindah ke dinamika dan komposisi. Peste Noire benar-benar bagaikan hamster yang overdosis kuaci di lini ini. Sinting! Baroque-influenced French Folk dan rentetan tremolo picking bersahut-sahutan dengan sangat tidak sopan dan sukses menghajar telinga gw dengan raungan nada-nada yang chaotic untuk kemudian menenangkannya dengan nada-nada melankolis nan kelam, menggambarkan keputusasaan yang muram dan busuk. Riff-riff di album ini juga patut diacungi bintang. Catchy, namun tidak terlalu pretensius dan teknikal seperti band-band Technical Death Metal. Kadar agresivitasnya cukup untuk mengingatkan lo kalo La Sanie adalah album Black Metal, bukan Folk. Oh dan gw juga cukup terkejut dengan bagian solo-solo gitar dalam aransemen mereka. Jarang banget gw menemukan solo gitar yang orgasmik di band-band Black Metal dengan tipe sound seperti ini.

Kabarnya, Peste Noire mendapatkan sambutan yang baik dari para sobat Black Metal. La Sanie meledak di pasaran dan sibuk merajai tangga lagu Black Metal di seantero jagad. Mereka dikait-kaitkan dengan gerakan Depressive Black Metal dan Post-Black Metal yang lagi ngeksis di kalangan hipster. Beberapa orang berbisik-bisik bahwa ketenaran dan kenampolan mereka ini adalah buah karya kejeniusan Neige, seorang selebriti di kalangan Black Metal yang terkenal dengan proyek-proyeknya seperti Alcest, Amesoeurs, Lantlos, Mortifera, dan entah-proyek-apa-lagi-gw-gak-hapal. Melihat fenomena ini muntablah Famine. Dia misuh-misuh di wawancara ini bahwa Peste Noire adalah anak tunggalnya, dia gak pernah diperkosa sama Neige sama sekali dan dia ngebesarin Peste Noire sendirian dengan konsep-konsep yang muncul dari buah pemikirannya sendiri (berat ya jadi single parent). Famine muak ngeliat Peste Noire selalu dikaitin dengan gerakan Post-Black Metal. Well, gak heran juga sih soalnya dari segi aransemen dan part-part Folk yang Famine masukin album La Sanie memang bisa digolongin sebagai Post-Black Metal. Sebagai komentar atas segala fenomena ini maka lahirlah album kedua yang berjudul Folkfuck Folie. Judul albumnya cukup mendeskripsikan isi dari album ini secara lugas. Folk mereka tinggalkan dan sebagai gantinya mereka mengadopsi elemen-elemen dari crust punk. Album kedua ini jauh lebih lugas, telak tanpa basa-basi. Soundnya juga lebih busuk dari album sebelumnya. Famine sengaja untuk bikin album ini sebagai album yang bikin orang normal bakal berhenti ngedengerin setelah track kedua. Tidak percaya? Baca saja:

"...the guitar sound on Folkfuck Folie is the result of a bet between me and a friend, which was to create the ugliest and most irritating sound possible, in order make the album unlistenable after having heard two songs." -- Famine

See? He did this album for the lulz obviously. Dan sepertinya Famine baru kembali serius di album ketiga, Ballade cuntre lo Anemi Francor. Di album ketiga ini, Famine bereksperimen dengan apa yang dia sebut sebagai "Black n Roll". Okay, that was weird. Gw tiba-tiba membayangkan Chuck Berry pake corpsepaint.



ini namanya corpsepaint, anak-anak!

Famine kembali ke tujuan awalnya: membuat sebuah musik yang dibenci orang. Ya, dan dia sepertinya berhasil. Gw banyak menemukan review jelek tentang Ballade, kebanyakan masih mengomentari betapa berbedanya album ini dengan album pertama mereka yang "vberkvlt". Gw ngeliat hal ini sebagai kemenangan Famine; kemenangan atas para fans, kritikus, dan media. Semua orang menuntut musik Black Metal yang bagus itu harus A, B, kemudian ditambah dengan sedikit C dan rentetan D. Musik jadi memiliki manual. Ia tereduksi dari seni menjadi sekedar komoditas. Seragam. Famine menolak itu semua. Ia justru memutuskan untuk menulis musik yang buruk dengan kualitas produksi yang tidak kalah buruknya. Gw lebih melihat album ini sebagai sebuah pernyataan, sebuah sikap, bahwa ia menolak tunduk terhadap apapun, termasuk kritikus, selera pasar, bahkan terhadap ekspektasi pendengarnya juga. Maka ia bermusik dengan merdeka, tanpa keterikatan kewajiban yang mengharuskannya untuk menulis musik yang "bagus".

Yak sekian bacotan dari saya kali ini. Cukup panjang dan pretensius memang. Ah tapi persetan deh, blog-blog gw ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

La Sanie des siècles - Panégyrique de la dégénérescence (Full-length, 2006)


Tracklist
1. Nous Sommes Fanés
2. Le Mort Joyeux
3. Laus Tibi Domine
4. Spleen
5. Phalènes Et Pestilence - Salvatrice Averse
6. Retour De Flamme (Hooligan Black Metal)
7. Dueil Angoisseus (Christine De Pisan, 1362-1431)
8. Des Médecins Malades Et Des Saints Séquestrés

link

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Folkfuck Folie (Full-length, 2007)



Tracklist
1. L'Envol du Grabataire (Ode à Famine)
2. Chute Pour Une Culbute
3. La Fin Del Secle
4. D'un Vilain
5. Condamné à la Pondaison (Légende Funèbre)
6. La Césarienne
7. Maleiçon
8. Amour ne m'amoit ne je li
9. Psaume IV
10. Extrait Radiophonique d'Antonin Artaud
11. Folkfuck Folie
12. Paysage Mauvais

link

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ballade cuntre lo Anemi Francor (Full-length, 2007)


Tracklist
1. Neire Peste
2. La Mesniee Mordrissoire
3. Ballade Cuntre les Anemis de la France - De François Villon
4. Concerto Pour Cloportes
5. La France Bouge - Par K.P.N. (Chant de l'Action Française)
6. A la Mortaille!
7. Vespre
8. Rance Black Metal de France
9. Requiem Pour Nioka (Á un Berger-Allemand)
10. Soleils Couchants - De Verlaine

link

2010/08/13

Lantlos - .neon (2010)


Okeh, mari sedikit me-review. Awalnya gw tau band ini dari temen gw yg ngasih link ke review dari album ini. Post-Rock + Black Metal + Shoegaze? Wah kombinasi itu terdengar sangat menarik buat gw, lebih menarik dari video bokep yang sedang gw download. So, download-an bokep gw stop dan kemudian gw beranjak ke tuhan baru kita: google, untuk meminta wejangan di mana gw bisa dapetin album ini secara gratis dan ilegal.

First impression gw pada saat Minusmensch berkumandang: kalem? Lumayan, menghanyutkan khas tembang-tembang post-rock namun kelam layaknya alunan-alunan nada black metal. Karakter post-rock di .neon cukup kental, bisa didenger dari layer-layer gitar yang ngebantu membangun atmosfer dari setiap lagu di album ini. Eits tapi tunggu dulu! Pecinta blast-beat dan shrieking khas black metal juga bakal (sedikit) dipuaskan oleh track kedua: these nights were ours; oke, judul yang cukup melankolis, sangat tidak black metal-ish. Track ini dimulai dengan black metal, padat merayap ke arah shoegaze, untuk kemudian ditutup dengan black metal. Sweet.

I won't spoil the fun by describing every song, silahkan diunduh dan didenger sendiri. Percaya deh, album ini jauh lebih menarik daripada Ashlynn Brooke dan Shay Laren.


Tracklist:
1. Minusmensch (07:51)
2. These Nights Were Ours (04:43)
3. Pulse / Surreal (08:23)
4. Neige De Mars (05:03)
5. Coma (06:09)
6. Neon (07:42)

Lantlos - .neon