Navigasi

2012/06/23

Vallendusk

23 Juni 2012
Hari yang cerah, mari kita bermain. Saya akan melempar beberapa kata, lalu biarkan saya menebak apa yang ada di dalam benak anda. "Black Metal Indonesia", apa yang anda pikirkan? Tunggu, tunggu, biarkan saya menebak: gimmick bertemakan mistisisme, jurig, kuntilanak, pocong, kekejaman terhadap binatang, dan Cradle of Filth. Tidak? Ah, tak apa. Setidaknya itulah yang ada di dalam benak saya setiap kali ada kolektif yang mendeklarasikan aksinya sebagai black metal di Indonesia. Hampir semuanya menganut gimmick usang seperti berdandan seperti jejadian dan mempertontonkan ritual meminum darah ayam di video klip maupun aksi panggungnya. Selain itu pun musiknya tak terlalu bervariasi, hampir semuanya mengadopsi pendekatan simfonik terhadap black metal seperti yang dilakukan oleh Cradle of Filth dan Dimmu Borgir.

Tidak semuanya, memang. Ada beberapa grup di Bandung yang mengadopsi blackened death metal seperti Impish dan Hellgods. Di Solo ada Makam, grup black metal yang cukup vokal dalam memperjuangkan Kejawen. Selain itu akhir-akhir ini juga mulai banyak grup black metal satir yang bernaung di bawah Lumbung Angker Records seperti Bvrtan dan Cangkang Serigala yang merayakan keglamoran black metal berfidelitas rendah era second wave seperti Immortal dan Darkthrone, lengkap dengan stereotip-stereotip dan corpsepaint yang menyertainya.

Namun, hey, bagaimana dengan post-black metal? Indonesia sepertinya mengalami defisit akan grup-grup yang membawakan subgenre yang dibai'at sebagai anak haram black metal oleh para puritan ini. Cukup mengherankan memang, apalagi melihat sepertinya cukup banyak hipster di negeri ini yang rajin memutar tembang-tembang dari Wolves in the Throne Room dan Alcest. Sebenarnya saya agak bersyukur mereka tidak latah membuat proyek bertemakan black metal. Silakan lantangkan "elitis" dan "pretensius" kepada saya namun saya tetap berpikir bahwa black metal sebaiknya dijauhkan dari tangan khalayak, terutama khalayak yang menganggap dirinya bukan bagian dari khalayak. Biarkan saja ia tetap kvlt, berbahaya, dan subversif. Saya agak malas berpanjang lebar tentang hipsterdom di sini, sila simak pembahasan Adbusters saja jikalau ingin. Kurang lebih saya agak sependapat dengan mereka.

Sampai mana tadi, post-black metal? Ya, maaf, entah kenapa saya punya kebiasaan meracau tak jelas juntrungannya setiap menulis. Akhir kisah saya bertemu dengan sebuah nama: Vallendusk. Saya pertama mengenal mereka pada bulan Oktober tahun 2011 dari Mithos, gitaris mereka yang sempat bernaung di aksi-aksi metal Indonesia kenamaan seperti Bloody Gore dan Funeral Inception. Waktu itu ia sedang mencari bassist untuk Vallendusk, sebuah proyek yang tidak banyak saya ketahui selain pencantuman label "Atmopheric/Post/Folk Black Metal" pada laman Facebook-nya. Kontan saya pun berdecak "WAH!".

Kemudian senyap.


Selang beberapa bulan, Vallendusk mengunggah tembang-tembang mereka dan mengumumkan bahwa mereka akan merilis EP perdana mereka dalam format CD di bawah label Pest Productions, sebuah label rekaman asal China yang berjasa memperkenalkan saya dengan subgenre post-black metal melalui kompilasi "The World Comes to An End in the End of a Journey". Oh wow, terang saya takjub. Mereka tak banyak bicara dan menjual gimmick namun tiba-tiba mereka sudah berhasil melempar karya mereka ke audiens internasional. Sayang sepertinya mereka justru malah kurang dikenal di dalam negeri.

Vallendusk membawakan black metal yang sangat mengingatkan saya kepada aksi-aksi internasional yang banyak dirujuk ketika membicarakan post-black metal seperti Wolves in the Throne Room dan Agalloch. Tidak, mereka tidak mengikuti langkah Neige yang bermain dengan wall of sound yang berlapis-lapis dan riff-riff yang melanglang buana entah kemana.

Komposisi dari EP ini kebanyakan terdiri dari aransemen-aransemen panjang yang dibangun dengan frasa-frasa akustik yang mengarah kepada ledakan blastbeat dan riff-riff yang megah. Namun sayangnya saya tidak menemukan intensitas yang sama di setiap lagu. Vallendusk sepertinya lebih berhasil membangun suasana dan dinamika yang epik pada track dengan durasi panjang seperti "The Wooden Sphere" dibandingkan dengan track lainnya. Paruh awal dari tembang "Foghymn" agak mengingatkan saya pada era second wave black metal, namun pada paruh kedua mereka kembali membangun tempo untuk meledakkannya menuju senyap di akhir lagu. Sebuah formula yang menarik, namun sayang Vallendusk menggunakan formula tersebut untuk hampir setiap lagunya sehingga terdengar repetitif dan mudah untuk diprediksi.

Secara keseluruhan saya menilai EP perdana mereka ini cukup solid. Saya tak begitu mengerti masalah produksi namun saya bisa mendengarkan EP ini dengan nyaman tanpa harus mengerutkan telinga. Tidak buruk untuk rilisan perdana. Semoga pada rilisan-rilisan berikutnya Vallendusk lebih berani untuk bereksperimentasi pada ranah dinamika dan struktur lagu. Full-length, semoga.

Sekian racauan saya.
Salam.

==========================================
Vallendusk:
- Bandcamp (Streaming)

2012/06/13

Sepertinya

25 Juni 2012
Alkisah, saya sedang bosan, jadi sepertinya saya akan membuat tumblr baru. Tidak ada alasan khusus, saya hanya jijik saja melihat isi tumblr lama saya yang sepertinya hanya berisi reblog dan gambar-gambar tak jelas bertemakan pemberontakan dan musik-musik edgy. Jujur, dulu saya membuatnya hanya untuk alasan pencitraan saja. Semacam fesyen. Sama halnya dengan para musisi glam black metal yang banyak menjual imaji-imaji sesetanan dan musik berfidelitas rendah sebgai manifesto mereka. Sama juga dengan cetakbiru kolektif-kolektif skramz/emoviolence kebanyakan yang banyak mencantumkan padanan kata dari bahasa Perancis dan juga referensi kepada literatur-literatur dari gerakan Situasionis Internasional dalam tembang-tembang mereka.

Oh wow, pahit sekali saya. Tak apalah. Bencilah jikalau ingin. Toh, saya tak begitu peduli. Intinya saya cuma ingin membuat tumblr baru, sekian.

2012/02/24

Telantar

25 Februari 2012
Tengah malam, ketika pagi mulai merangsur-angsur merebut kembali teritori malam. Sepertinya saya sudah melupakan blog ini ya. Entah karena kreativitas yang sekarat digorok oleh rutinitas, atau mungkin karena sudah tidak ada lagi kegundahan yang bisa dibuang ke dalam laman-laman digital ini. Namun satu hal yang pasti: saya tidak akan membunuh blog ini, setelantar apapun ia menjadi.

Untuk sementara sekian.

2011/09/17

Sebuah Band Dalam Rahim dan [we.hum collective]

September 18.
Bumi hampir kembali khatam mengelilingi matahari sejak entri terakhir saya, dunia ini masih tidak baik-baik saja, dan saya masih terasik dan terasing di sini, di kota bajingan bernama Jakarta ini. Saya masih berkutat di masalah yang sama: alienasi dan masokisme. Eh, Masokisme? Ada yang bertanya begitu kan? Tidak ada? Ah, mungkin bahkan tidak akan ada yang membaca tulisan ini. Mungkin bahkan tidak akan ada orang yang terpikir untuk membaca blog ini. Mungkin mereka kebetulan bertemu dengan blog ini secara tidak sengaja melalui filestube demi beberisikan macam Peste Noire, Amesoeurs, atau Aura Noir, no? Ah, biarlah, biarkan saya meracau.

Masokisme...
Ah, tidak jadi. Biarlah itu menjadi topik untuk lain kali. Kebetulan saya belum berkesempatan untuk menggali emosi dan mengorek amuk yang teredam untuk menulis tentang bagaimana menyenangkannya mengorek-ngorek sebuah luka bernama masa lalu. Untuk sekarang, saya akan membahas tentang apa yang mencegah saya untuk menjagal diri sendiri seperti Per Yngve Ohlin (walaupun saya juga tidak terpikir untuk mati dengan otak terburai).

Beberapa bulan belakangan, saya terperangkap dalam dua kesibukan utama: bercinta dengan musik dan membangun sebuah ranjang untuk anak kami nanti. Kebetulan saya bertemu beberapa kawan yang mempunyai fetish yang sama dalam bermusik dan juga komitmen yang sama untuk menghamilinya. Untuk kalian yang penasaran akan proyek musik kami ini (walaupun saya yakin tidak ada yang penasaran), saya akan mendeskripsikannya dengan buruk dalam satu kalimat: "skramz with a little twist of insolence, insurgency, hate, sorrow, and black metal." Dan apakah itu skramz? Well, saya jujur agak malas menjelaskan. Baca saja di tautan berikut. Oh ya, bagian black metal ini adalah preferensi saya pribadi. Tak apalah. Sedikit ego tak akan menghancurkan sebuah band, bukan?


Skramz!


Namun apa daya, ternyata mencari personil itu lebih sulit daripada melucu di depan Habib Riqieq. Tiada drummer, proyek pun tak bisa lepas landas. Unfortunate indeed, padahal semua posisi sudah terisi, nama band sudah kami siapkan, dan beberapa lirik sudah mempunyai aransemen. Ah well, daripada berkutat di proyek yang tidak jelas kapan akan lahir saya pun berpikir untuk mempersiapkan landasannya saja karena jujur, dengan keadaan skena musik seperti saat ini, bayi kami akan mati prematur.

Oke, mari kita bicara tentang skena musik Indonesia. Apa yang akan saya bicarakan akan sangat subjektif mungkin, tapi persetan. Toh, kebenaran tak mengenal hakiki. Hanya subjektivitas yang nyata. Problem? Just fuckin' relax lah, tinggal klik tanda silang lucu di pojok kanan atas antarmuka browser anda dan VOILA! Dunia anda kembali damai tanpa perbedaan pendapat. Ehem, mari kembali ke topik.

Skena musik Indonesia hari ini: menyebalkan! Kalian yang kritis dan mempunyai hobi buruk berlompatan dari satu acara ke acara lain seperti saya pasti kurang lebih berpikiran sama. Bagaimana tidak, skena musik Indonesia hari ini berubah menjadi semacam geng, yang asik sendiri dalam private party mereka sendiri. Perhatikan saja gig-gig belakangan ini, terutama gig-gig dengan genre musik yang lumayan obscure, pasti yang datang bertandang maupun bermain hampir semuanya asyik-masyuk dalam inner-circle mereka. Nyaris tak menyisakan ruang bagi individu-individu di luar lingkaran tersebut untuk turut berdansa. Oke, mungkin cuma saya yang tidak suka dengan kondisi seperti itu, namun bukankah musik itu seharusnya merdeka dari segala eksklusifitas dan elitisme?

Jika itu bukan masalah bagi kalian maka izinkan saya melempar satu isu lagi: mentalitas yang menyedihkan dari para organizer. Saya sudah tidak begitu aware dengan skena musik independen generasi Aksara lagi, entahlah ada apa dengan mereka. Saya tidak tahu kenapa kicaunya tidak terdengar lagi. Toh, bukan itu juga yang ingin saya bahas. Saya lebih tertarik membahas fenomena di dua skena yang cukup besar di Indonesia, yakni Metal dan Hardcore Punk.

Metal dan hardcore hari ini mulai membosankan. Memang banyak band baru yang bermunculan dengan musik-musik yang semakin variatif. Tapi bagaimana dengan acara-acaranya? Sepertinya sudah bukan rahasia umum lagi bahwa band yang ingin bermain di suatu acara harus membayar sejumlah uang kepada panitia. Sebut saja kolekan, uang registrasi, sumbangan, atau apalah. Esensinya masih tetap sama: uang. Sekilas terdengar seperti bukan masalah yang besar. Toh, bikin acara juga perlu uang kan? Ya, saya pun setuju. Hanya saja, terdapat perbedaan uang yang harus disetor. Jikalau uang itu benar digunakan untuk kelangsungan acara bukankah semua band seharusnya membayar jumlah yang sama? Namun sayang nyatanya tidak. Band yang ingin mendapat jadwal bermain di waktu-waktu primetime dapat membelinya dengan membayar lebih mahal dibanding band-band lainnya. Oh, atau yang lebih menyedihkan lagi: sebuah band juga dapat membayar lebih mahal untuk bermain tepat sebelum band yang terkenal. Demi apa? Popularitas kah? Hey, bukankah kita semua seharusnya setara? Brotherhood and unity my arse!

This scene will destroy itself!
Tapi tidak, saya tidak akan membiarkannya. Skena ini pernah menyelamatkan saya dahulu di tahun 2008, tahun-tahun suram gulita. Ini waktunya saya membalas budi. Beruntung saya memiliki kawan-kawan yang satu visi. Tidak lama setelah beberapa pembicaraan mengenai betapa berengseknya cinta dan kehidupan di lokasi paling tersohor tahun ini, yakni Seven Eleven AKA 7-11 AKA Sevel, terbentuklah we.hum collective.


we.hum collective


we.hum collective
Singkatnya, we.hum adalah sebuah kolektif yang mempunyai utopia di mana "..tidak ada lagi sekat-sekat antar genre, wilayah, demografis, dan batas-batas maya lainnya di dalam scene musik Indonesia. Singkatnya, kami ingin membuat sebuah wadah musik non-elitis yang nirbatas." Kalian dapat membaca tentang kami selengkapnya di tautan ini. Utopis memang. Sayangnya, kami semua adalah seorang pemimpi yang impulsif. Jadi, kita lihat saja nanti apakah proyek ini akan mengamini visinya atau justru mati di pojokan album Facebook kalian.

Sampai nanti.

2010/11/01

Amesoeurs

November 1.
Halloween telah usai dan para setan berjas kembali ke kantornya masing-masing, menghitung lembar-lembar yang mereka dapatkan dari royalti pemakaian wajah mereka untuk kostum berharga jutaan rupiah yang dipakai para manusia untuk berpesta merayakan ketakutan. Sementara itu di belahan bumi lainnya, para gerombolan gamis berteriak-teriak lantang, "FESTIVAL IBLIS! HARAM! DAJJAL! FREEMASON!" sementara tetangganya gelisah menunggu Jumat Kliwon yang tak kunjung tiba.
Sedangkan saya? Sibuk menyusun rencana untuk mengkudeta setan dari tahta monopoli mereka terhadap Halloween. Seharusnya tuhan juga menerapkan antitrust law untuk festival-festival seperti ini.

Hmm..

Ah sudahlah, persetan dengan Halloween.
Pada momen kali ini saya akan membahas, mengomentari, atau sekedar meracau tentang Amesoeurs, sebuah band yang cukup berhasil mengawinkan dengan paksa dua buah aliran, yaitu post-punk dan black metal. Ya, saya masih akan membahas tentang anak haram bernama post-black metal yang lahir dari sebuah pemerkosaan brutal yang dilakukan oleh kaum hipster terhadap sang perawan bangsat, black metal (mungkin tidak masalah bagi Gaahl, because he love it from the back, hardcore).

Amesoeurs

Mari bercerita singkat tentang Amesoeurs.
Amesoeurs didirikan pada tahun 2004 oleh Neige (ya! lagi-lagi dia!), Audrey Sylvain, dan Fursy Teyssier dari Les Discrets, sebuah proyek dark folk yang menurut saya, artwork cover albumnya jauh lebih membuai dibandingkan musiknya. Umur Amesoeurs tidak terlalu panjang, hanya lima tahun. Selama lima tahun masa hidupnya, Amesoeurs hanya sempat mengeluarkan tiga rilisan sebelum konflik berpilin dan membubarkan mereka. Diskografi mereka adalah sebagai berikut:
  • 2004 - Ruines Humaines [EP]
  • 2007 - Valfunde/Amesoeurs [Split]
  • 2009 - Amesoeurs [Full-length]
Kenapa mereka membubarkan diri? Dari berbagai sumber yang saya baca, alasan mereka adalah karena konflik internal dan ketidakselarasan pandangan akan masa depan band. Alasan "konflik internal" cukup masuk akal, mengingat bahwa ada masa lalu yang pernah indah antara Neige dan Audrey. Menarik ya? Tapi saya bukanlah seorang spesialis gosip dan juga tidak berminat untuk mengirim artikel ini ke SILET. Jadi, mari biarkan Feny Rose saja yang mengurus masalah gosip, kita bahas musiknya saja, shall we?

Saya hanya akan membahas tentang album full-length mereka saja, karena sepertinya dewa google tidak mampu membantu saya untuk menemukan download link yang masih aktif untuk mengunduh EP dan album Split mereka. Sepertinya google tidak begitu maha kuasa ya?

Amesoeurs memasukkan begitu banyak genre sebagai bumbu dalam album self-titled mereka, sehingga sulit sekali untuk menentukan musik apa saja yang meng-influence mereka. Namun saya bisa menemukan dua genre yang lumayan menonjol pada Amesoeurs: post-punk dan black metal. Amesoeurs berhasil memadukan kedua genre yang tidak saling kenal tersebut ke dalam kerangka aransemen yang unik. Contoh paling menarik ada pada track "Heurt", yang menggabungkan sound gitar yang kotor, blastbeat, dan tremolo-picking ala black metal dengan melankolia suara vokal Audrey yang datar mengiris. Ekstatik.

Album self-titled ini juga mengandung beberapa track yang lebih menonjolkan wajah post-punk dari Amesoeurs. Tapi jangan harap kalian akan menemukan Arctic Monkeys atau Bloc Party di sini. Coba saja tengok tembang-tembang seperti Les Ruches Malades, Faux-Semblants, Video Girl, dan Amesoeurs. Kalian tidak akan menemukan dansa-dansi bahagia pada track-track tersebut. Amesoeurs mendekonstruksi post-punk lalu membangunnya kembali dengan nihilisme black metal yang lirih, menghasilkan sebuah komposisi keluhan-rintihan-jeritan yang bercerita tentang betapa banalnya dunia modern.

Amesoeurs memang cukup kontroversial. Mereka membuat para puritan black metal mencak-mencak, mengutuki mereka 666 keturunan. Darah Amesoeurs menjadi halal untuk ditumpahkan. Neige, sebagai salah seorang otak dari band ini, memang terkenal di scene black metal sebagai kafir. Proyek-proyek Neige banyak dikenal sebagai proyek murtad. Salah satu contohnya adalah Alcest, yang sangat "lembut" dan melankolis (oh betapa kedua kata ini dapat membuat para kvlthead itu bergidik murka). Beda halnya dengan para kritikus musik. Mereka terhenyak kagum atas keberhasilan Amesoeurs menggabungkan dua genre musik yang sangat bertolak belakang menjadi satu kesatuan.

Saya akui musik mereka memang unik dan berani, namun ada beberapa hal yang menurut saya menjadi poin minus Amesoeurs. Poin pertama adalah vokal Audrey yang datar. Dalam kadar tertentu kedataran vokal Audrey memang dapat menjadi poin plus, namun alangkah lebih menariknya apabila Audrey dapat lebih bermain-main dalam dinamika vokal agar dapat mendepak Neige keluar sepenuhnya dari area vokal. Entahlah, band metal dengan vokalis wanita selalu terdengar lebih lezat bagi saya. Apalagi apabila Audrey juga dapat turut menyumbangkan teriakan dan jeritannya ke dalam lini vokal, wah!

Poin kedua ada pada lini komposisi. Amesoeurs kadang dapat terdengar begitu menjemukan. Sepertinya mereka terlalu banyak meminjam sifat post-punk: riff-riff yang repetitif dan hentakan perkusi yang hampir sama nyaris tanpa variasi. Come on! Ini adalah album metal, harusnya mereka dapat bermain-main lebih berani sedikit lagi di area komposisi ini. Kami mendengarkan kalian bukan untuk berdansa resah, Amesoeurs!

Tapi sejujurnya, kekurangan-kekurangan tersebut tidak mengurangi kenikmatan album self-titled Amesoeurs ini. Malah, saya penasaran untuk mendengar lebih jauh tentang eksperimentalia apa lagi yang akan lahir dari rahim mereka. Namun apabila mendengar beberapa bagian lagu dari Amesoeurs, sepertinya album ini adalah album puncak mereka. Bila Ruines Humaines adalah perkenalan antara post-punk dan black metal dan Amesoeurs adalah sebuah one-night stand,  maka biarkan mereka bercumbu dan berpisah di album ini, karena sesungguhnya sebuah pernikahan yang dipaksakan hanya akan menemui kehancuran.

Tak apalah.
Masih banyak chord di lautan not, bebaskan dirimu wahai musik!




---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Amesoeurs (Full-length, 2009)




Tracklist
1. Gas in Veins
2. Les Ruches Malades
3. Heurt
4. Recueillement
5. Faux Semblants
6. I XIII V XIX XV V XXI XVIII XIX – IX XIX – IV V I IV
7. Trouble (Éveils Infâmes)
8. Video Girl
9. La Reine Trayeuse
10. Amesoeurs
11. Au Crépuscule de Nos Rêves



link

2010/10/12

ZOMBIE

hidup tak berotak
sakit tak memberontak
dibunuh, melenguh

perlawanan? huh!
kalian hanya pasrah dalam perlawanan hampa kalian
ya, perlawanan lantang tanpa tentang
miskin esensi, kosong tak berisi
zombie!

perjuangan kalian sama percumanya seperti sesumbar REC pada Blair Witch
yang berakhir di ujung pojok kamar Ebert
nihil, bodoh!

dan lihat!
kalian berkeliaran di mall-mall "kosong" bagai ternak, bagai sapi, bagai mati!
menukar sekeping hidup dengan senjata yang tak akan pernah kalian gunakan
karena medan perang tak akan pernah memberikan kesempatan untuk berdandan

tapi bisakah kalian lihat? "PAHLAWAN" itu menembaki kalian dengan shotgun dan timah!

maka kubilang: MATI!
kalian hanyalah infantri tak berarti
berjejer-berzirah tanpa bernilai
harga kalian sama dengan besi-murahan yang kalian pakai




salam terakhirku untuk kalian:
"semoga kalian semua berakhir seperti Fido, kawan!"

kalian




Oktober 12, 2010
murni amarah

2010/09/26

Sada Abe dan Serentetan Tandatanya tentang Cinta

Sada Abe.
Pesakitan bagi sebagian orang, mengharukan bagi sebagian lainnya. Bagiku, membingungkan.



Mari bercerita

Sada Abe adalah seorang wanita biasa. Terlalu biasa, mungkin, apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Kawin lari dan nimfomaniak menghiasi track record kehidupan saudara-saudaranya yang lain. Suatu aib yang sukses membuat orangtua mereka yang terhormat menggerus dada dengan miris.

Mungkin bisa dibilang Sada Abe adalah seorang hipster pada zamannya. Malam adalah rumah keduanya dan fashion, adalah cemilannya. Biasa. Seorang hipster yang terlalu takut untuk melewati batas-batas juridiksi keluarga dan norma. Responsible hipster? Conformist hipster?

Entah

Sampai pada suatu saat Sada Abe bertemu dengan gerombolan hipster lainnya, yang sayangnya amoral. Ia diperkosa dengan brutal, suatu kejadian yang mungkin membuatnya "haus" di kemudian hari. Abe berubah. Sejak saat itu ia seakan-akan persetan dengan dunia. Kepuasan membuatnya liar.

Merasa tidak sanggup, orangtuanya mengirim Abe ke tempat Geisha, suatu tindakan hukuman yang lazim dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anaknya yang nekat mencicipi seks. Kejam mungkin, tapi... ah entahlah, dengan alasan apapun bagiku itu tetap tindakan yang kejam, tanpa embel-embel sedikit atau mungkin.

Abe terhempas kesana-kemari. Pertaubatan dan lumpur datang silih berganti. Namun keduanya tidak ada yang betah berdiam di nurani Abe. Badai ini terus berlangsung sampai Abe bertemu dengan Kichizo Ishida, dan Cinta.

Cinta menciptakan realitas dan rasionalitas baru bagi Abe. Ia menemukan dunianya, dirinya, dan bahagianya pada Kichi. Rasionalitas baru ini pun menghentakkan Abe pada rasionalitas lamanya yang telah membusuk; ia tak akan pernah memiliki Kichi karena ia sudah memiliki tempat untuk kembali.: istri dan keluarganya. Satu-satunya tempat di mana mereka bisa bersama adalah di pekarangan tuhan.

Mereka bercinta nyaris seminggu-suntuk. Liar. Abe pun menjadi obsesif. Eros, Agape, dan Philia seakan lebur menjadi absurd. Normal seakan kehilangan maknanya saat mereka mulai bertemu dengan betapa orgasmiknya sado-masokis itu. Cinta kehilangan rasionalitasnya, ia bermetamorfosa. Entah menjadi kupu-kupu atau kecoak.

Seiring dengan semakin tenggelamnya mereka dalam pesona sado-masokis, Abe dan Kichi mulai bermain-main dengan maut. Mereka saling mencekik untuk mencapai orgasme. Bagaikan kerasukan, Abe pun mencekik Kichi dalam tidurnya hingga tewas. Ia kemudian memotong alat kelamin Kichi sebagai kenang-kenangan akan cinta mereka dan menulis "Sada, Kichi together" di tubuh Kichi sebagai tanda cintanya yang, semoga, suci.

Abe berniat untuk menyusul Kichi ke halaman belakang tuhan, namun ia merasa masih memiliki keterikan dengan penis Kichi, yang sepertinya sudah berteman baik dengan vaginanya. Maka Abe memutuskan untuk berhubungan dengan potongan penis Kichi untuk terakhir kalinya sebelum ia menyusul Kichi.

Tapi sayang sekali Abe harus kembali bertemu dengan kenyataan yang menyebalkan, bagai salesman yang tidak pernah engkau harapkan kedatangannya ke mulut rumahmu. Polisi datang pada sore harinya, mengakhiri mimpi indah Abe dan membungkamnya rapat-rapat saat dunia kembali menjemputnya dengan realitas.

Abe bertemu dengan negara dan rasionalitasnya: hukum. Namun sepertinya ia dapat menemuinya dengan damai. Mungkin karena ia tahu bahwa tidak ada lagi perempuan yang dapat menyentuh Kichi selain dia.

Selesai, happy ending?


Berkat Sada Abe, aku semakin bingung dengan makna cinta yg sesungguhnya.

 

Apakah memutilasi penis pasangan juga bisa tergolong cinta?


Apakah berkencan dengan potongan penis pasanganmu yang tergeletak lunglai di dalam tasmu juga termasuk cinta?


Apakah bercinta dengan potongan penis pasanganmu yang telah engkau mutilasi juga termasuk cinta?





ah betapa rumitnya manusia itu