Navigasi

2014/04/25

..dan kau pun datang membakar dengan canggung

Semua gelap. Haru. Biru, nyaris hitam.

"Cinta hanyalah suatu keniscayaan," pikirku.

Sampai kamu datang, sedikit membara, sedikit canggung. Aku tahu kita sama. Sesama mereka yang terpinggir karena menolak terseragamkan.

Maka kupikir, "mungkin kita bisa jadi teman."

Kau memberiku petualangan-petualangan baru, dan aku memberimu telinga; yang terkadang kau isi dengan cekikikan, terkadang kau isi dengan serapah.

Semuanya menyenangkan. Begitu sederhana.

Namun apa daya? Ketakutan akan kesepian membuatku terlalu membutuhkanmu.

Aku tahu aku tak akan pernah bisa memegangmu, karena engkau adalah molotov yang membakar, walau sedikit canggung.

Sedang aku hanyalah ombak yang merindukan pantai.



-----------------------------------
Jakarta, 18 April 2014
Untukmu yang menolak padam.

Making Amends

Entah mengapa hari ini kau berbeda. Pandanganmu memburu, menyapu langit seperti mencari sesuatu.

Kamu menunduk, menatapku, lalu tersenyum.

"Waktuku tinggal sedikit, sayang," katamu.

Mengabaikan tanya di wajahku, engkau pun kembali menengadah, lalu tersenyum kecut. Engkau mengerti bahwa hari ini, besok, atau pun lusa langit tak akan mengembalikan senyummu.







-------------------------------
Jakarta, 18 April 2014
Melihat caramu berdamai dengan akhir selalu membuatku tak habis pikir

2014/03/23

Aku Ingin

Aku ingin jadi peluru.

Tidak, tidak. Bukan peluru seperti Wiji Thukul. Aku ingin menjadi peluru yang lebih sederhana. Bersih, bersinar karena lama kau simpan bertahun-tahun di laci rumahmu, di bawah tumpukan puisi-puisi tak berbalas yang kau tulis di saat birumu.

Aku ingin jadi peluru,
yang terbang mengoyak jantungmu; yang bersemayam di lukamu; yang mengantarmu menuju nadir.



Sekarang, andai saja kau mau menarik pelatuknya...






---------------------------
Jakarta, 24 Maret 2014
Menunggumu.

2014/03/20

Rekonsiliasi

03:25
Hitam mulai berkejaran dengan biru,
membawa haru larut ke dalam sendu.

Ah, sudah lama aku tak bercinta dengan Malam; menghirup atmosfernya, menghanyutkannya ke dalam rasa untuk kemudian melepasnya menjadi aksara.

Aku merindukan kepedihan dan kesendirian yang diberikan Malam setiap kali aku merengkuhnya. Sepi dan sedikit menyakitkan, mungkin, namun malam adalah satu-satunya waktu di mana perdamaian menampakkan dirinya bukan sebagai utopia belaka padaku.

Beberapa bulan belakangan ini, aku sibuk mengabaikan bisu yang ditawarkan Malam. Entahlah, mungkin aku hanya lelah meladeni sepi yang kian hari makin deras menggerung. Aku terlalu sibuk mengejar seorang Matahari yang hanya bersinar di kala malam, tanpa sadar bahwa ia tak akan pernah bersinar untukku.

Maka dengan rentetan kata ini, aku mengajukan rekonsiliasi untukmu, Malam. Aku akan berhenti mengejar Sang Matahari karena sepertinya berhenti peduli untuk siapa ia bersinar adalah opsi paling masuk akal. Toh, aku yang paranoid ini sampai kapanpun tak akan mampu memahami untuk siapa ia bersinar sebenarnya? Untukku? Untuknya? Atau mungkin ia bersinar untuk siapapun yang kebetulan mengorbit di dekatnya? Dia seperti tak pernah memerlukan alasan untuk bersinar, dan tak pernah memikirkan untuk siapa ia bersinar.

Hei hei, lihat? Belum berlalu satu paragraf dan aku sudah banyak berbicara tentang dia lagi.
Sudahlah, lupakan. Maafkan aku, Malam.
Here's to our future years together. Hope I don't get blinded by the sun again.




------------------------------
Jakarta, 21 Maret 2014
Rekonsiliasi dengan Malam, dan sebuah reafirmasi dengan nazar "less you, more music" yang aku kicaukan di semesta Twitter beberapa hari yang lalu.

Pagi, dan Segala Harap yang Menyertainya

Aku mendengar derap langkah Matahari.
Berparang harapan, dan seserpih asa
ia mendekat.

Ssssttt...
Berhentilah mencoba menjangkaunya,
engkau akan terbakar.


------------------------------
Jakarta, 21 Maret 2014
Anak haramku dengan Malam.



2014/01/22

Mencoba Menulis

Kau tahu? Menulis tak pernah mudah bagiku. Entahlah, mungkin karena aku terlalu memaksakan untuk menumpahkan terlalu banyak rasa dan emosi ke dalam kanvas yang tak begitu besar dengan pena yang tak begitu tajam.

Seperti seorang penderita bulimia.
Aku sepertinya terlalu memaksakan diri untuk memuntahkan hal-hal yang yang seharusnya sudah sirna tercerna. Namun apa mau dikata? Muntah itu menyenangkan. Setidaknya engkau bisa membuat para kontol-tai-babi garismiring masyarakat itu untuk melihat sisa-sisa sampah omong kosong yang terpaksa kutelan demi bisa sekedar dianggap berfungsi di dalam kawanannya.

Tapi, tapi, tapi,
Tapi!

Tentu aku sadar bahwa muntah pun membutuhkan semacam, apa ya, keahlian. Toh, siapa yang mau melihat muntahan yang generik dan tanpa cita rasa? Oleh karena itu, mulai sekarang aku mungkin akan mulai belajar muntah dengan rutin; barang dua-tiga tulisan dalam seminggu, mungkin. Setidaknya meningkatkan frekuensi entry agar sarang serapah ini tak dianggap mati suri oleh khalayak.

Sekian, dan semoga kemalasan tidak menyergapku sewaktu-waktu.




--------------------
Januari 23, 2014.
Just installed Blogger application on my smartphone. Hope this'll help to make me write more frequently.

Belajar Membaca

Dengan lugu mata bocah itu menjelajah,
Terbata ia mencoba mengeja malam:    

S-E-P-I


-------------------
Januari 23, 2014
Shit-tier poetry.